Lewati ke konten

Silsilah 30 Shifatul Huruf- Marâtibu At Tafkhîm

Penulis: Abu Hanifa Muhamad Muslih | Tanggal Rilis Asli: July 11, 2021
Sumber: Tautan Telegra.ph

Marâtibu at Tafkhîm

(Tingkatan ketebalan huruf-huruf Isti’la’)

Maratibut Tafkhim (sumber gambar: Tajwid Al Mushawwar)

Maratibut Tafkhim (sumber gambar: Tajwid Al Mushawwar)

Telah disinggung sebelumnya bahwa huruf Isti’la’ memiliki tingkatan ketebalan yang berbeda-beda tergantung shifat-shifatnya dan harakatnya. 

A. Tingakatan ketebalan Huruf Isti’la ditinjau dari shifat-shifatnya

Huruf Isti’la’ yang memiliki shifat Ithbaq lebih tebal dibandingkan dengan huruf Isti’la’ yang tidak Ithbaq (Infitah)

Pembahasan Ithbaq dan Infitah akan dibahas pada Silsilah yang ke-31.

Kalimat : ظَلَمِ lebih tebal dari خَلَقَ

 Kalimat : طَبَعَ lebih tebal dari قَعَدَ

Kalimat : صَدَفَ lebih tebal dari غَفَرَ

B. Tingkatan ketebalan huruf Isti’la ditinjau dari harakatnya

Tingkatan ketebalan huruf Isti’la’ ditinjau dari harakatnya terdapat perbedaan pendapat, setidaknya terdapat 2 mazhhab dalam pembahasan ini, dengan perincian sebagai berikut :

1. Pendapat Pertama, Oleh Imam Ibnu at Thahhan (nama Aslinya Abul Ashbagh ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Aliy As Sumâtiy Al Isybîliy w. 561 H.)

Marâtibu at Tafkhîm dibagi menjadi 3 tingkatan,

-Tingkatan Pertama : Berharakat Fathah (contoh : قَالَ - صَعَدًا)

-Tingkatan Kedua : Berharakat Dhammah (contoh : يَقُولُ - صُحُفًا)

-Tingkatan Ketiga : Berharakat Kasrah (contoh : قِيلَ - صِهْرًا)

Adapun Ketika sukun maka tingkat ketebalannya tergantung harakat huruf sebelumnya.

 Kata أَخْلَدَة berada di tingikatan pertama, أُخْرَى ditingkatan kedua dan إِخْوَانًا ada di tingkatan ketiga.

2. Pendapat kedua, oleh Imam Muhammad Ibnul Jazari (w. 833 H.)

Marâtibu at Tafkhîm dibagi menjadi 5 tingkatan,

-Tingkatan Pertama, Berharakat Fathah dan setelahnya alif /madd (contoh : غَاسِقٍ - ظَالِمٌ)

-Tingkatan Kedua , Berharakat Fathah tanpa Alif (contoh : غَفَرَ - ظَلَمَ)

-Tingkatan Ketiga, Berharakat Dhammah (contoh : غُلِبَتْ- ظُفُرٍ)

-Tingkatan keempat , Keadaan sukun (contoh :أغْنَى/ تُزِغْ/ يُغْنِى، أَظْلَمَ/يُظْلَمُونَ/)

-Tingkatan Kelima, Berharakat Kasrah (contoh : غِلٍّ- ظِلًّا)

Maratibut Tafkhim tersebut dinazhamkan oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad al Mutawalli, yang tidak akan kami uraikan matannya di materi silsilah ini

Penurunan ketebalan dari tingkatan satu ke tingkatan dibawahnya hanya sedikit saja. Dari kedua pendapat tersebut diketahui bahwa tingkatan ketebalan yang paling rendah adalah sama yaitu ketika berharakat kasrah. Sebagian ulama menyebut keadaan tersebut dengan istilah tafkhim nisbi.

C. Pembahasan Tafkhim Nisbi

Pada huruf-huruf Isti’la yang tidak ithbaq ketika berada pada tingkat ketebalan yang paling rendah, maka huruf-huruf tersebut dalam keadaan tafkhim yang paling lemah bahkan hampir menyerupai huruf-huruf tarqiq namun tidak boleh disebut telah berubah menjadi huruf tarqiq. Istilah Tafkhim Nisbi disebutkan karena dinisbatkan kepada ketipisan dan kelemahannya. Berikut perincian keadaan tafkhim nisbi :

1. Huruf خ maksurah, contoh : خِيفَةٌ

2. Huruf غ maksurah, contoh : غِلٍّ

3. Huruf ق maksurah, contoh : قِيلَ

4. Huruf خ sakinah sebelumnya kasrah, contoh إِخْوَانًا dikecualikan kalimat إِخْرَاجٍ

5. Huruf غ sakinaj sebelumnya kasrah, contoh أَفْرِغْ

6. Huruf خ sakinah (ketika waqaf) sebelumnya ي sakinah, contoh : شَيْخٌ

7. Huruf غ sakinah (ketika waqaf) sebelnya ي sakinah, contoh : زَيْغٌ

Huruf ق ketika sukun tidak mengalami tafkhim Nisbi.

D. Hal-hal yang harus diperhatikan

1. Huruf Ithbaq tidak mengalami tafkhim nisbi, ketika berharakat kasrah atau pada tingkat ketebalan paling rendah tidak ditipiskan;

2. Tidak boleh membaca huruf Isti’la dengan tingkat ketebalan yang sama padahal harakatnya berbeda.

Wallahu A’lam